Presiden di Dunia dengan Sejarah Merugikan Negara – Selama tiga abad masa penjajahannya, ada sejumlah tokoh Belanda terkejam yang tak bisa dihilangkan dari benak rakyat. Tokoh-tokoh ini begitu fenomenal hingga namanya didokumentasikan slot dana ke dalam buku sejarah Indonesia. Mereka adalah orang yang “tangannya berlumuran darah” rakyat. Sebab mereka memimpin dengan begitu kejam dan membuat kebijakan yang merugikan dan bahkan membuat ribuan nyawa melayang. Belum selesai persoalan korupsi di masa lalu, kasus-kasus baru terus bermunculan seiring berjalannya waktu. Bahkan, banyak di antara para koruptor itu masih bebas berkeliaran. Tak tanggung-tanggung, negara harus merugi triliunan rupiah akibat ulah para koruptor tersebut. Terbaru, kasus yang menyeret nama Surya Darmadi dan Bupati Indragiri Hulu (Inhu) periode 1999-2008, Raja Thamsir Rachman disebut menjadi yang terbesar di Indonesia dengan kerugian negara mencapai Rp 78 triliun.
Wilhelmina
Wilhelmina Helena Pauline Marie van Orange-Nassau adalah ratu Belanda yang menjabat pada tahun 1890 hingga 1948. Walaupun tidak berkuasa di Indonesia, nama Wilhelmina menjadi terkenal karena ia adalah orang yang menentang kemerdekaan kita. Menjelang tahun 1945, Ratu Wilhelmina sempat mengadakan konferensi yang disiarkan melalui radio Indonesia. Ia berjanji bahwa suatu hari ia akan slot kamboja membentuk negara persemakmuran yang terdiri dari Kerajaan Belanda dan Hindia Belanda (Indonesia), di bawah pimpinan Ratu Belanda. Tentu saja, rakyat menolak hal ini karena menginginkan kemerdekaan yang seutuhnya.Di tahun 1945, keadaan Belanda kacau balau. Perekonomian jatuh karena perang dengan Sekutu dan Jepang, sedangkan Indonesia berusaha keras untuk melepaskan diri dari jajahan.Karena itulah, Wilhelmina dan anaknya, Juliana mengirimkan ribuan pemuda Belanda ke Tanah Air dengan tujuan merebut kekuasaan kembali. Namun upaya tersebut tidak membuahkan hasil.
Baca Juga : Artis Indonesia Kepergiannya Membuat Syok Masyrakat Indonesia
JB Van Heutsz
JB van Heutsz adalah perwira tentara Belanda yang menguasai Aceh. Setelah menjadi gubernur sipil dan militer, ia berhasil naik jabatan menjadi gubernur jenderal Hindia Belanda di tahun 1904. Ia melaksanakan kebijakannya berlandaskan kekerasan. Van Heutsz bersama dengan Snouck Hurgronje, penasihatnya selalu menyerang wilayah yang ingin ditaklukkannya dengan senjata. Pertumpahan darah adalah makanan sehari-hari saat ia berkuasa.
Tak hanya itu, ia pun sering melakukan devide et impera. Rakyat, kaum ulama, dan bangsawan, semua elemen masyarakat diadu domba agar meminta bantuan kepada Belanda. Van Heutsz tercatat pernah melakukan pembantaian terhadap ratusan warga di Gayo, Aceh untuk melaksanakan semua ambisinya.
Herman Willem Daendels
Siapa yang tak kenal Herman Willem Daendels atau yang “akrab” disapa Daendels ini? Ia adalah gubernur jenderal dari Hindia Belanda yang menjabat pada tahun 1808 hingga 1811. Walaupun masa kepemimpinannya cukup singkat, kekejaman Daendels tak ada saingannya. Ialah tokoh di balik munculnya istilah kerja rodi. Ia mempraktikkan kebijakan tersebut untuk membuat jalan raya dari Anyer, Jawa Barat hingga Panarukan, Jawa Timur yang dinamakan Jalan Raya Pos. Pemimpin otoriter itu memiliki slot dana ambisi besar di balik pembangunan jalan raya tersebut. Ia ingin melancarkan pengangkutan komoditas pertanian serta menjadikannya sarana untuk pertahanan militer terhadap Sekutu.Sesuai keinginan Daendels, hanya butuh waktu satu tahun untuk menyelesaikan jalan sepanjang 1.084 kilometer tersebut. Namun proyek Anyer-Panarukan sering disebut sebagai gerakan genosida karena menelan ribuan korban.